Selasa, 15 Sep 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Beranda › Daerah
Daerah

Karhutla Paksa Orangutan Keluar Habitat, Tiga Satwa Diselamatkan di Kayong Utara

✍️ Yudi Setiawan 🕒 15 Sep 2026 👁️ 2x dibaca
Tiga Satwa Orangutan Diselamatkan di Kayong Utara
Tiga Satwa Orangutan Diselamatkan di Kayong Utara Foto: BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI

Kayongnews.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kayong Utara membuat satwa liar semakin terdesak. Tiga individu orangutan ditemukan berada di kawasan yang terdampak kebakaran dan berhasil dievakuasi pada Sabtu, 12 September 2026.

Dua orangutan, yakni induk dan anak, ditemukan di Desa Penjalaan. Satu orangutan lainnya merupakan jantan dewasa yang ditemukan di Desa Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir.

Operasi penyelamatan melibatkan BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI. Yayasan Palung, LPHD Penjalaan, LPHD Padu Banjar serta warga turut membantu proses evakuasi.

Di Penjalaan, induk dan anak orangutan itu ditemukan di kebun sawit milik warga transmigrasi. Setelah dievakuasi, keduanya diberi nama Mama Penja dan Penja.

Kondisi keduanya sudah cukup lemah saat ditemukan. Dr. Karmele Llano Sanchez, dokter hewan satwa liar sekaligus Direktur Utama YIARI, mengatakan tim mendapati keduanya hampir tidak bergerak.

“Saat kami tiba di lokasi, kami melihat induk orangutan dan anaknya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Keduanya terlihat sangat kurus dan lemas, dan hampir tidak bergerak dari sarangnya, meskipun banyak orang berada di sekitar mereka,” ujarnya.

Untuk mengevakuasi keduanya, tim menggunakan blow dart. Setelah berhasil dibius, tim medis memberikan infus dan oksigen sebelum membawa Mama Penja dan Penja ke Pusat Rehabilitasi YIARI.

Dari pemeriksaan, Mama Penja diketahui mengalami dehidrasi berat dan anemia. Kedua kakinya juga mengalami luka bakar hingga kulit terkelupas. Tim menduga luka tersebut terjadi karena ia berjalan di atas tanah gambut yang terbakar.

Kondisi giginya juga menunjukkan banyak pengikisan. Tim menduga hal tersebut berkaitan dengan sulitnya mendapatkan makanan setelah kawasan habitatnya terdampak kebakaran.

Karmele mengatakan kondisi tubuh Mama Penja menunjukkan dugaan kekurangan makanan dalam jangka waktu panjang.

“Kami menduga kondisi kekurangan makanan yang berkepanjangan, kemungkinan selama berminggu-minggu sejak kebakaran mulai di areanya pada dua bulan lalu, yang telah menyebabkan kondisi tubuhnya semakin memburuk hingga mengalami anemia berat,” katanya.

Saat ini tim medis masih fokus memulihkan kondisi Mama Penja, termasuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Penanganan intensif juga diberikan kepada induk dan anak tersebut.

Tak jauh dari lokasi itu, laporan warga mengenai orangutan lain di Desa Padu Banjar juga mendapat respons tim penyelamat.

Orangutan jantan dewasa tersebut dievakuasi menggunakan senapan bius. Setelah diperiksa, tim menemukan microchip yang menandakan satwa tersebut pernah diselamatkan dari hutan yang sama pada 2022.

Orangutan itu kemudian diketahui bernama Kumbang.

Direktur Operasional Program YIARI Argitoe Ranting mengatakan Kumbang diduga keluar dari habitatnya karena kawasan hutan yang menjadi tempat hidupnya terdampak kebakaran.

“Karena kebakaran yang meluas, mendorong orangutan ini masuk di wilayah kampung dan di kebun masyarakat,” jelasnya.

Masalah lain ditemukan saat pemeriksaan kesehatan. Pada paru-paru bagian kanan Kumbang terdengar suara abnormal. Warga sebelumnya juga melaporkan adanya suara batuk dari orangutan tersebut.

Tim menduga gangguan pernapasan itu berkaitan dengan asap karhutla. Ketika Kumbang dievakuasi, lokasi kebun tempat ia ditemukan masih diselimuti kabut asap cukup tebal.

Kumbang juga memiliki sejumlah luka dan bekas cedera. Di antaranya luka panjang di punggung kanan, bekas luka pada kaki, serta luka yang berdasarkan pemeriksaan awal diduga bekas abses atau cedera akibat proyektil.

Sebuah benda asing yang diduga peluru ditemukan tertanam di tangan kanannya. Tim juga menemukan bekas jerat.

Melihat kondisi tersebut, Argitoe menilai penyelamatan orangutan di kawasan terdampak karhutla semakin membutuhkan respons cepat.

“Evakuasi ini menjadi semakin mendesak karena dampak karhutla terhadap satwa liar sudah mulai terlihat secara langsung,” katanya.

Ketiga orangutan kini berada di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI untuk menjalani perawatan dan pemantauan. Pemeriksaan lanjutan akan menentukan penanganan yang dibutuhkan masing-masing individu.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane mengatakan keberadaan ketiga orangutan diketahui setelah pihaknya menerima informasi dari masyarakat sekitar dua hari sebelum penyelamatan.

“Penyelamatan ketiga orangutan ini kami laksanakan berdasarkan informasi dari masyarakat sekitar dua hari sebelumnya. Saat ini mereka menjalani perawatan di pusat penyelamatan orangutan YIARI di Ketapang,” ujarnya.

Ia berharap kondisi ketiga satwa tersebut membaik sehingga dapat kembali dilepasliarkan di habitat alami yang aman. Murlan juga menyebut hingga kini sudah 18 individu orangutan yang diselamatkan karena terdampak karhutla.

BKSDA Kalimantan Barat mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan temuan satwa yang terdampak kebakaran melalui call center 0811-5670-041 atau 0811-5776-767.

Ketua Umum YIARI Silverius Oscar Unggul menilai kebakaran habitat dapat memaksa orangutan masuk ke wilayah yang berisiko bagi keselamatan mereka.

“Temuan ini menunjukkan bahwa ketika habitat terbakar dan akses orangutan terhadap kawasan hutan semakin terbatas, mereka dapat terdorong masuk ke lanskap yang berisiko bagi keselamatan dan kesehatannya,” ujarnya.

YS
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update