Kamis, 22 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Aktivitas di Lahan Gambut Kayong Utara Disorot, Risiko Karhutla Mengintai

✍️ Yudi Setiawan 🕒 16 Sep 2026 👁️ 46x dibaca
Proses Pemadaman Kebakaran Lahan Gambut di Sumatera Selatan
Proses Pemadaman Kebakaran Lahan Gambut di Sumatera Selatan Foto: pantaugambut.id/Ahmad Rizki Prabu

Aktivitas di Lahan Gambut Kayong Utara Disorot, Risiko Karhutla Mengintai

KAYONG UTARA – Pengelolaan kawasan gambut di Kabupaten Kayong Utara menjadi sorotan di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Link-AR Borneo menilai perubahan kondisi gambut akibat pembukaan lahan dan kanalisasi membuat kawasan tersebut semakin mudah terbakar.

Direktur Eksekutif Link-AR Borneo Ahmad Syukri menyebut PT Mayawana Prasada sebagai salah satu pemegang izin Hutan Tanaman Industri (HTI) yang aktivitasnya disoroti. Ia menilai pengeringan gambut melalui kanal berpotensi meningkatkan risiko kebakaran saat musim kemarau.

Namun menurut Ahmad, persoalan tersebut tidak bisa semata-mata dibebankan kepada korporasi. Pemerintah sebagai pemberi izin juga disebut mempunyai tanggung jawab terhadap kondisi kawasan gambut.

“Protes ini sebenarnya sudah lama kita layangkan, baik ke perusahaan maupun ke pemerintah. Ada dua pihak yang mesti bertanggung jawab terhadap kerusakan ekosistem gambut di Kayong Utara, yaitu pemilik izin, PT Mayawana Prasada, dan pemberi izin, dalam hal ini pemerintah,” ujar Ahmad Syukri.

Dari sisi lingkungan, gambut yang masih terjaga memiliki peran penting dalam menyimpan air. Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Profesor Dwi Astiani, mengatakan gambut alami memiliki permukaan air yang relatif dekat dengan permukaan tanah.

“Kalau kawasan gambut masih asli, tinggi airnya hampir mendekati permukaan. Jadi dia selalu basah,” kata Profesor Dwi Astiani.

Kondisi tersebut berubah ketika air gambut terus dikeringkan. Salah satunya melalui kanal yang dibangun tanpa dilengkapi bangunan pengatur air.

“Kalau dibangun kanal tapi tidak dibangun (pengatur air-red), lama-kelamaan airnya akan turun sampai sedalam paritnya,” jelasnya.

Ketika gambut kehilangan kelembapan, material organik yang tersimpan di dalamnya menjadi mudah terbakar. Api kecil pun dapat menjadi awal kebakaran yang lebih luas.

“Orang menyulut api sedikit saja itu bahan bakar yang paling potensial,” ujarnya.

Kebakaran di lahan gambut juga berbeda dengan kebakaran biasa. Api dapat merambat ke lapisan bawah permukaan dan terus membara. Akibatnya, titik api tidak selalu mudah terlihat dan penanganannya pun menjadi lebih sulit.

Menurut Dwi, api yang muncul akan menghasilkan panas dan membuat gambut di sekitarnya semakin kering. Kondisi tersebut kemudian memperbesar peluang api menyebar.

“Kalau sudah apinya mulai menyala, dia mulai memanaskan sekitarnya, kering gambutnya dan seterusnya menjadi besar apinya, mengeringkan sekelilingnya. Lama-lama enggak bisa kita kendalikan,” katanya.

Untuk mengurangi risiko tersebut, air di dalam kawasan gambut harus tetap dipertahankan. Salah satu caranya dengan memasang bangunan penahan air di kanal.

“Jadi dipasang penahan air sehingga dia tidak mengering airnya,” ujarnya.

Dwi juga mengingatkan bahwa kerusakan gambut akibat kebakaran bukan persoalan yang mudah dikembalikan. Gambut terbentuk sangat lambat, sekitar 2 hingga 3 milimeter setiap tahun dalam kondisi hutan alami.

Sementara itu, kebakaran bisa menghilangkan lapisan gambut dalam waktu yang sangat singkat.

“Kita bayangkan dalam kebakaran satu menit, sepuluh menit sudah 15 sentimeter hilang,” katanya.

Gambut yang terdapat di Kalimantan Barat diperkirakan telah terbentuk sejak 5.000 hingga 10.000 tahun lalu. Karena itu, kerusakan akibat kebakaran membutuhkan waktu sangat panjang untuk dipulihkan.

“Untuk gambut kembali itu sepertinya memerlukan waktu yang sangat-sangat lama, berabad-abad,” ujarnya.

Selain menjadi lebih rentan terbakar, gambut yang rusak juga tidak lagi mampu menjalankan fungsi penyimpanan air secara optimal. Padahal, ekosistem gambut yang sehat dapat menyerap dan menahan air hujan sehingga membantu mengurangi aliran air menuju wilayah hilir.

Melihat kondisi tersebut, Dwi meminta seluruh pihak memahami karakter kawasan gambut sebelum melakukan pengelolaan.

“Semua harus pintar dalam mengelola gambut,” tegasnya.

Menurutnya, pengaturan tata air, menjaga kelembapan dan mencegah kebakaran harus menjadi perhatian utama agar kawasan gambut yang terbentuk selama ribuan tahun tidak rusak dalam waktu singkat.

YS
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update