Kamis, 22 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

BRIN Kembangkan Formulasi Berbahan Singkong untuk Bantu Atasi Karhutla Gambut

✍️ Nita Purnamasari 🕒 16 Oct 2026 👁️ 5x dibaca
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan formulasi berbahan pati singkong untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan gambut.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan formulasi berbahan pati singkong untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan gambut. Foto: istimewa

kayongnews.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan formulasi berbahan pati singkong untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan gambut. Inovasi bernama Singkong-APP tersebut menunjukkan hasil awal yang menjanjikan dalam pengujian, termasuk penggunaan cairan yang lebih sedikit dibandingkan perlakuan menggunakan air.

Formulasi Singkong-APP terdiri atas pati singkong, ammonium polyphosphate (APP), alkyl polyglucoside (APG), dan air. Pengembangannya ditujukan untuk membantu menghambat pembakaran yang dapat bertahan di dalam lapisan gambut, bukan sekadar mendinginkan area yang terbakar.

Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Julinton Sianturi, menjelaskan bahwa formulasi tersebut dirancang untuk membentuk lapisan arang atau char yang dapat menghambat perpindahan panas.

“Singkong-APP dirancang tidak hanya untuk pendinginan. Sistem singkong–APP mendorong pembentukan lapisan char yang berfungsi sebagai barrier termal, sehingga dapat menghambat perpindahan panas dan membantu menekan pembakaran lanjutan,” ujar Julinton.

Dalam pengujian awal, Singkong-APP membutuhkan sekitar 65 liter cairan, sedangkan perlakuan pembanding menggunakan 120 liter air. Setelah 60 menit pengamatan, tidak ditemukan api maupun asap pada perlakuan Singkong-APP. Sebaliknya, pada perlakuan air masih ditemukan enam titik api atau asap.

Bara api juga dilaporkan masih ditemukan pada perlakuan air setelah 12 jam pengamatan. Meski demikian, hasil tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa formulasi Singkong-APP efektif pada seluruh kondisi kebakaran gambut. Pengujian lebih lanjut masih diperlukan untuk menilai kinerjanya di lapangan.

Pencegahan Karhutla Perlu Menjaga Kelembapan Gambut

Selain pengembangan bahan pemadam, BRIN menekankan pentingnya menjaga kondisi hidrologi gambut sebagai langkah pencegahan kebakaran. Ekosistem gambut mampu menyimpan air dalam jumlah besar sehingga kondisi muka air tanah berpengaruh terhadap tingkat kelembapannya.

Peneliti Pusat Riset Ekologi, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, Dony Rachmanadi, menjelaskan bahwa gambut yang mengering lebih rentan terbakar. Penurunan muka air tanah dapat memperbesar risiko kebakaran sekaligus menyebabkan penurunan permukaan tanah atau subsiden dan meningkatkan emisi karbon.

“Gambut itu bekerja seperti spons raksasa karena mampu menyimpan air dalam jumlah besar. Yang perlu diperhatikan adalah muka air tanah yang menentukan kesehatan ekosistem gambut,” jelas Dony.

Indonesia memiliki sekitar 24 juta hektare ekosistem gambut yang tersebar terutama di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Selain menjadi tempat penyimpanan karbon, gambut berperan penting dalam menjaga tata air lingkungan.

Dony menerangkan, kebakaran gambut dapat berlangsung melalui dua mekanisme, yakni flaming atau pembakaran dengan api yang terlihat di permukaan serta smouldering, yaitu pembakaran di dalam lapisan gambut.

Pembakaran di bawah permukaan lebih sulit dideteksi karena bara dapat bertahan dalam waktu lama. Kondisi ini membuat penanganan karhutla gambut membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada api di permukaan.

“Karena itu, kebakaran gambut adalah masalah hidrologi sebelum menjadi masalah api,” tegasnya.

Pengalaman kebakaran di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah, pada 2026 turut menunjukkan pentingnya deteksi dini. Titik panas berukuran kecil berpotensi berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas ketika kondisi lingkungan mendukung.

Pemantauan Satelit Dukung Deteksi Dini

BRIN juga memanfaatkan teknologi penginderaan jauh untuk mendukung pemantauan karhutla. Data satelit digunakan untuk mengidentifikasi titik panas, anomali termal, perubahan tutupan lahan, serta area yang telah terbakar.

Menurut Julinton, pemantauan satelit dapat membantu mengenali wilayah berisiko dalam cakupan luas sebelum dilakukan verifikasi langsung di lapangan.

Kombinasi deteksi dini, pemantauan kondisi air, dan pengembangan teknologi pemadaman menjadi bagian penting dalam upaya menangani karhutla. Pemadaman diperlukan ketika api muncul, sedangkan pemeliharaan tata air gambut menjadi langkah mendasar untuk mengurangi risiko kebakaran berulang.

Pengembangan Singkong-APP menjadi salah satu alternatif berbasis bahan lokal yang sedang diteliti untuk mendukung penanganan karhutla. Namun, efektivitas, kebutuhan penerapan, dan skalabilitasnya masih harus dibuktikan melalui pengujian lanjutan sebelum dapat dinilai untuk penggunaan yang lebih luas.

NP
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update