Kalimantan Simpan Potensi Grafit 31,24 Juta Ton, BRIN Kembangkan Material Superkapasitor
kayongnews.com – Kalimantan memiliki potensi grafit alam mencapai 31,24 juta ton atau sekitar 57 persen dari total potensi nasional yang disebutkan dalam riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Mineral tersebut berpeluang dikembangkan menjadi bahan baku teknologi penyimpanan energi, termasuk material elektroda untuk superkapasitor.
Peluang itu sejalan dengan penelitian BRIN yang mengolah grafit alam menjadi material berteknologi tinggi. Dalam pengujian laboratorium, material hasil pengembangan peneliti BRIN tersebut mencatat kapasitansi spesifik hingga 918 farad per gram, atau sekitar 2,9 kali lebih tinggi dibandingkan komposit tanpa penambahan bahan tertentu.
Penelitian ini dikembangkan oleh Peneliti Posdoktoral Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Lukmanul Hakim Samada. Riset tersebut dipaparkan dalam webinar Diseminasi #12 bertajuk “Pemanfaatan Mineral Grafit Alam sebagai Prekursor Elektroda Superkapasitor Berkinerja Tinggi” pada 14 Oktober 2026.
Grafit Diolah Menjadi Material Elektroda
Dalam penelitiannya, Lukmanul mengembangkan grafit menjadi reduced graphene oxide (RGO), kemudian mengombinasikannya dengan polyaniline (PANI). Proses tersebut dibantu surfaktan cetyltrimethylammonium bromide (CTAB) untuk memperbaiki struktur dan karakteristik material elektroda.
Penambahan CTAB sebesar 0,02 molar dilaporkan mengubah morfologi material. Partikel yang sebelumnya cenderung menggumpal berubah menjadi jaringan nanoserat PANI yang lebih terdispersi dan memiliki porositas mesopori tinggi.
Hasil pengujian menunjukkan material tersebut memiliki kapasitansi spesifik 918 F/g pada arus 1 A/g. Nilai itu sekitar 2,9 kali lebih tinggi dibandingkan komposit yang tidak menggunakan CTAB.
Material tersebut juga mencatat resistansi seri sebesar 0,60 ohm dan mampu mempertahankan 95 persen kapasitansinya setelah 1.000 siklus pengujian.
Pada pengujian perangkat asymmetric supercapacitor (ASC), material menunjukkan tegangan 1,7 volt, rapat energi 18,9 watt-jam per kilogram, serta rapat daya 850 watt per kilogram.
Meski hasil laboratorium tersebut menjanjikan, pengembangan masih memerlukan pengujian lanjutan untuk menilai ketahanan, konsistensi produksi, kelayakan ekonomi, dan kesiapan penerapannya dalam skala industri.
Potensi Grafit Kalimantan Mencapai 31,24 Juta Ton
Data yang dipaparkan dalam riset tersebut menyebutkan potensi grafit alam Indonesia mencapai 54,67 juta ton. Dari jumlah itu, sebanyak 31,24 juta ton berada di Kalimantan, sedangkan 23,43 juta ton lainnya berada di Sulawesi, termasuk kawasan Kolaka.
Besarnya potensi tersebut menempatkan Kalimantan sebagai wilayah penting untuk dikaji dalam pengembangan industri berbasis grafit. Namun, angka potensi sumber daya tidak otomatis menunjukkan bahwa seluruh material dapat ditambang atau diolah secara ekonomis.
Pengembangan industri membutuhkan kepastian lokasi endapan, karakteristik mineral, tingkat kemurnian, teknologi pengolahan, serta kajian kelayakan ekonomi.
Lukmanul menjelaskan bahwa grafit merupakan bentuk kristalin karbon yang memiliki ketahanan panas dan sifat konduktivitas yang berpotensi dimanfaatkan dalam berbagai aplikasi teknologi.
Setiap endapan grafit mempunyai karakteristik berbeda, termasuk ukuran serpihan atau flake, tingkat kemurnian, dan kandungan mineral pengotor. Faktor-faktor tersebut memengaruhi proses pengolahan serta kualitas produk yang dihasilkan.
Tahapan pengolahan grafit dapat mencakup eksplorasi, penambangan, pengecilan ukuran, flotasi, pembersihan, pengeringan, hingga pemilahan ukuran.
“Tantangan utama dalam pemrosesan grafit alam adalah memisahkan grafit dari mineral pengotor secara optimal sambil tetap mempertahankan karakter flake yang menentukan nilai produk,” jelasnya.
Peluang Hilirisasi untuk Teknologi Penyimpanan Energi
Superkapasitor merupakan perangkat penyimpanan energi yang memiliki kemampuan menerima dan melepaskan energi dengan cepat serta mendukung penggunaan berulang dalam banyak siklus. Karakteristik tersebut membuatnya berpotensi digunakan pada sistem yang membutuhkan respons daya tinggi.
Grafit dan material berbasis karbon juga berperan dalam pengembangan teknologi baterai. Namun, material RGO/PANI-CTAB dalam penelitian ini secara khusus diuji untuk aplikasi superkapasitor. Penggunaannya pada baterai kendaraan listrik masih membutuhkan penelitian dan pengujian tersendiri.
Pengembangan tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah grafit melalui pengolahan di dalam negeri, alih-alih hanya memasarkan mineral sebagai bahan mentah.
Bagi Kalimantan, potensi grafit dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam agenda hilirisasi mineral. Realisasinya membutuhkan dukungan riset, infrastruktur, investasi, teknologi pemurnian, dan industri pengguna yang mampu menyerap produk olahan.
Dengan demikian, tantangan utama bukan hanya mengidentifikasi besarnya potensi grafit, melainkan juga memastikan sumber daya tersebut dapat dikembangkan secara bertanggung jawab dan layak secara teknis maupun ekonomi.
Data Utama Riset Grafit
-
Potensi grafit Kalimantan: 31,24 juta ton.
-
Potensi grafit Sulawesi: 23,43 juta ton.
-
Total potensi nasional yang disebutkan: 54,67 juta ton.
-
Kapasitansi spesifik material: 918 F/g.
-
Peningkatan dibandingkan komposit tanpa CTAB: sekitar 2,9 kali.
-
Retensi kapasitansi: 95 persen setelah 1.000 siklus pengujian.
