Jumat, 23 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Kemenhut Cari Pangkalan Helikopter Baru demi Percepat Pemadaman Karhutla di Tanjung Puting

✍️ Yudi Setiawan 🕒 15 Oct 2026 👁️ 1x dibaca
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni (tengah)
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni (tengah) Foto: detik.com

PANGKALAN BUN — Langkah cepat terus diambil oleh pemerintah untuk menghentikan laju kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengancam kawasan konservasi Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) kini tengah menyisir dan menyiapkan lokasi pangkalan operasional (helipad atau posko udara) yang representatif untuk helikopter pengebom air (water bombing) guna menunjang efektivitas pemadaman dari udara.

Penyediaan pangkalan helikopter yang lebih dekat dan strategis menjadi salah satu krusialitas utama dalam strategi tanggap darurat saat ini. Tingginya tingkat ketebalan kabut asap serta luasnya sebaran titik api (hotspot) membuat helikopter pemadam membutuhkan titik tumpu operasional yang optimal agar pengisian air serta mobilitas armada tidak terkendala jarak tempuh maupun masalah visibilitas.

Pemetaan Titik Api Utama dan Strategi Operasi Udara

Upaya penyelamatan paru-paru dunia dan kawasan habitat penting satwa endemik seperti orangutan ini terus diintensifkan oleh Kemenhut bersama tim gabungan. Berdasarkan hasil pemantauan teknologi udara terbaru, pihak kementerian telah memetakan fokus penanganan pada zona-zona yang paling parah terdampak kebakaran.

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengungkapkan bahwa penggunaan armada pemantau mutakhir sangat membantu tim dalam merumuskan titik pertempuran utama di lapangan.

"Dari banyak titik api yang tersebar di Tanjung Puting, pakai drone thermal kita bisa identifikasi ada empat battleground atau ada empat titik di mana kita harus bertarung melawan api," kata Raja Juli usai rapat penanganan karhutla di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dilansir Antara, Rabu, 14 Oktober 2026.

Lokasi pertempuran memadamkan kobaran api tersebut terkonsentrasi di beberapa titik krusial, antara lain Teluk Pulai, Sungai Buluh Kecil, Sungai Buluh Besar, hingga kawasan Sungai Bawung dan Tanjung Rengas. Kawasan-kawasan ini menjadi prioritas penanganan langsung, baik melalui pergerakan pasukan darat maupun intervensi pemadaman dari udara (water bombing).

Kolaborasi Pasukan Darat dan Keterlibatan Masyarakat Local

Tidak hanya mengandalkan helikopter pengebom air, Kemenhut juga mengombinasikan strategi udara dengan penguatan personel darat secara masif. Ratusan personel dari unsur Manggala Agni, TNI, Polri, hingga masyarakat mitra telah dikerahkan secara bertahap ke lokasi amukan api.

Bahkan, guna memangkas durasi perjalanan yang memakan waktu dan menguras energi, sejumlah tim pemadam disiagakan secara intensif untuk menginap di dalam kawasan hutan. Langkah menginap selama sepekan di area kerja ini diambil agar upaya penyekatan api tidak terputus dan respon terhadap kemunculan titik api baru bisa dilakukan dalam hitungan menit.

Selain itu, Kemenhut menyadari betul bahwa pertahanan terbaik dalam menghadapi bencana karhutla jangka panjang terletak pada kolaborasi bersama warga setempat. Karena itu, pemerintah menggandeng masyarakat dari 15 desa sekitar kawasan taman nasional dengan membentuk kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA).

Tidak berhenti di situ, Kemenhut juga menjalin komunikasi erat serta menggalang kembali dukungan dari elemen relawan yang selama ini ikut berjuang di garis depan.

"Kami akan menemui relawan Taman Nasional Tanjung Puting. Kami sudah zoom meeting dua hari yang lalu dan akan meminta bantuan mereka untuk bekerja sama," kata Raja Juli, Rabu (14/10/2026).

Tantangan Asap Pekat dan Jarak Pandang Pilot

Meskipun skenario pemadaman dari udara telah disiapkan secara matang, tantangan kondisi alam di lapangan sering kali menjadi penghambat utama. Karakteristik lahan gambut yang terbakar menghasilkan asap tebal dan membubung tinggi, sehingga menutupi ruang udara di sekitar kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.

Kondisi kabut asap yang pekat ini berdampak langsung pada menurunnya visibility atau jarak pandang aman bagi para pilot helikopter water bombing. Ketika jarak pandang berada di bawah batas keselamatan penerbangan, helikopter tidak dapat memaksakan diri untuk terbang dan menjatuhkan bom air di titik kebakaran.

Pemerintah terus berkoordinasi secara ketat lintas instansi demi memastikan penerbangan pemadaman udara baru dilakukan saat jendela cuaca dan ruang udara memunginkan demi keselamatan kru.

"Kendala karena visibility rendah jadi pemadaman lewat udara/heli WB terhambat," kata Letjen Suharyanto.

Senada dengan hal tersebut, jajaran pejabat di Kementerian Kehutanan juga menerangkan bahwa dinamika teknis di lapangan memerlukan kehati-hatian tinggi, sembari terus memprioritaskan keselamatan personel dan satwa terlindungi.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi menjelaskan kondisi lapangan yang membuat kebakaran sulit dikendalikan.

"Kementerian Kehutanan terus berupaya memperkuat penanganan, dengan prioritas pada keselamatan personel, pengendalian kebakaran, serta perlindungan kawasan konservasi dan habitat satwa liar, khususnya orang utan di Taman Nasional Tanjung Puting," ujar Ristianto Pribadi.

Suara Relawan dan Komitmen Penanganan Berkelanjutan

Esok dinamika penanganan karhutla di Tanjung Puting sempat diwarnai keprihatinan saat sejumlah kelompok relawan menyuarakan kesulitan berat yang mereka hadapi. Keterbatasan peralatan, skala kebakaran yang masif, hingga medan ekstrim membuat para pekerja sukarela sempat menghentikan sementara aktivitas di lapangan untuk meminta dukungan pemadaman skala lebih besar serta penanganan udara yang lebih agresif.

Kekuatiran dan jerat beban yang dirasakan para relawan tecermin dalam pernyataan sikap mereka yang mendorong pemangku kebijakan untuk mengambil tindakan cepat dan konkrit.

“Kami tidak membutuhkan sekadar janji. Kami tidak membutuhkan harapan yang kembali menggantung. Kami membutuhkan tindakan nyata, sekarang,” demikian tertulis dalam keterangan video.

Menanggapi keprihatinan publik dan kondisi kritis tersebut, Kemenhut memastikan tidak tinggal diam dan terus memobilisasi segala sarana, prasarana, serta dukungan logistik yang dibutuhkan. Pencarian pangkalan helikopter baru di sekitar Tanjung Puting ini pun menjadi bukti nyata respon cepat pemerintah dalam memperluas jangkauan water bombing.

Taman Nasional Tanjung Puting merupakan aset konservasi kebanggaan Indonesia dan dunia yang memegang peranan vital bagi keseimbangan iklim dan habitat alami satwa langka. Sinergi antara pemadaman darat, pencarian pangkalan udara helikopter yang strategis, penerapan teknologi drone thermal, serta pelibatan aktif masyarakat dan relawan diharapkan mampu memadamkan titik-titik api secara menyeluruh sebelum kerusakan kawasan meluas lebih jauh.

YS
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update