Jumat, 23 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Kualitas Udara Pontianak Berbahaya, ISPU PM2.5 Tembus 375 di Tengah Karhutla Kalbar

✍️ Nita Purnamasari 🕒 14 Oct 2026 👁️ 4x dibaca
ilustrasi kabut asap.
ilustrasi kabut asap. Foto: istimewa

kayongnews.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman bagi masyarakat Kalimantan Barat. Data pemantauan kualitas udara di Kota Pontianak pada Rabu (14/10/2026) pagi menunjukkan indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) parameter PM2.5 mencapai 375, yang masuk kategori berbahaya.

Berdasarkan data Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Pontianak Tenggara pada situs resmi Kementerian Lingkungan Hidup, angka tersebut tercatat pukul 08.00 WIB. Kondisi ini menjadi peringatan bagi masyarakat untuk membatasi paparan asap, terutama bagi kelompok rentan.

Sementara itu, tangkapan layar aplikasi IQAir yang beredar di media sosial menunjukkan AQI US mencapai 700 dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 426 mikrogram per meter kubik pada pukul 00.00 WIB di hari yang sama.

Kedua data tersebut berasal dari indeks dan waktu pengukuran berbeda. Karena itu, angka dari aplikasi IQAir tidak dapat langsung disamakan dengan ISPU resmi atau dianggap mewakili kondisi udara sepanjang hari. Namun, data pemantauan pemerintah pada pagi hari menunjukkan pencemaran udara di Pontianak masih berada pada tingkat yang perlu diwaspadai.

Status Tanggap Darurat Karhutla Diperpanjang

Buruknya kualitas udara terjadi ketika penanganan karhutla di Kalimantan Barat masih berlangsung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat memperpanjang status tanggap darurat karhutla selama 14 hari, terhitung 5–18 Oktober 2026.

Dalam pemberitaan ANTARA pada 6 Oktober 2026, Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kalimantan Barat Ridwan menyebut sejumlah daerah masih menghadapi situasi darurat, termasuk Kabupaten Kayong Utara, Melawi, dan Mempawah.

Pergerakan angin turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena asap dari kawasan kebakaran dapat terbawa ke wilayah lain. Akibatnya, masyarakat yang tinggal jauh dari titik api pun berpotensi terdampak pencemaran udara.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya menyangkut pemadaman api, tetapi juga upaya mengurangi paparan asap dan melindungi kesehatan masyarakat.

Paparan PM2.5 Perlu Diwaspadai

PM2.5 merupakan partikel polutan berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Karena ukurannya sangat halus, partikel ini dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan sebagian dapat mencapai aliran darah.

Paparan dalam konsentrasi tinggi dapat memicu iritasi mata dan tenggorokan, batuk, serta sesak napas. Bagi orang yang memiliki penyakit pernapasan atau gangguan jantung, pencemaran udara dapat memperburuk kondisi kesehatan.

Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau gangguan pernapasan termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus.

Saat kualitas udara berada pada kategori berbahaya, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jendela sebaiknya ditutup ketika asap masuk ke rumah. Jika terpaksa beraktivitas di luar, gunakan respirator yang sesuai, seperti masker N95 atau ekuivalen, dengan pemakaian yang benar.

Warga juga perlu memantau informasi kualitas udara dari sumber resmi secara berkala. Apabila mengalami sesak napas berat atau gejala serius lainnya, segera mencari pertolongan medis.

Penanganan Karhutla Harus Disertai Perlindungan Warga

Kondisi udara di Pontianak menegaskan pentingnya penanganan karhutla yang mengutamakan keselamatan masyarakat. Upaya pemadaman perlu diiringi penyampaian informasi kualitas udara yang mudah diakses dan imbauan kesehatan sesuai tingkat pencemaran.

Pemantauan titik panas, pencegahan kebakaran berulang, serta penegakan hukum terhadap pembakaran lahan juga perlu dilakukan secara konsisten.

Kabut asap bukan hanya mengganggu jarak pandang dan aktivitas sehari-hari, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak kesehatan. Selama karhutla masih berlangsung dan kualitas udara belum pulih, perlindungan warga harus menjadi bagian penting dari penanganan bencana di Kalimantan Barat.

NP
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update