Limbah Sawit dan Bauksit Berpotensi Jadi Sumber Ekonomi Baru Kalbar
kayongnews.com – Limbah industri kelapa sawit dan pengolahan bauksit berpotensi dikembangkan menjadi bahan baku bernilai ekonomi untuk mendukung hilirisasi industri di Kalimantan Barat. Pemanfaatan residu tersebut juga membuka peluang mengurangi dampak lingkungan melalui pengembangan teknologi pengolahan yang lebih ramah lingkungan.
Salah satu inovasi yang dibahas dalam diskusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) adalah pengolahan cangkang kelapa sawit menjadi biokokas, material yang berpotensi menjadi alternatif kokas berbasis batu bara dalam proses pengolahan logam.
Gagasan tersebut dipaparkan dosen Program Studi Teknik Kimia Institut Teknologi Kalimantan, Asful Hariyadi, dalam webinar Diskusi Seputar Mineral Strategis Indonesia seri ke-10 yang diselenggarakan BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Mineral (PRTM), Kamis (13/8).
Menurut Asful, industri peleburan nikel dan besi masih menghadapi tantangan ketergantungan terhadap kokas konvensional berbahan batu bara. Penggunaan bahan bakar tersebut juga berkontribusi terhadap emisi karbon dalam proses metalurgi.
Cangkang kelapa sawit yang merupakan hasil samping industri perkebunan dapat diolah menjadi biokokas terbarukan. Dalam pemaparan riset tersebut, briket biokokas berbasis cangkang sawit memiliki kadar karbon terikat di atas 80 persen serta kekuatan tekan mekanis yang memenuhi kriteria standar untuk penggunaan dalam tanur tinggi atau blast furnace.
Pengujian peleburan feronikel yang dipaparkan dalam forum tersebut mencatat tingkat perolehan nikel hingga 92 persen dan besi 88 persen. Hasil ini menunjukkan potensi pemanfaatan biokokas, tetapi belum membuktikan penerapan komersialnya di industri Kalimantan Barat.
Studi Life Cycle Assessment (LCA) yang disampaikan Asful juga menunjukkan potensi penurunan dampak pemanasan global. Integrasi biokokas cangkang sawit disebut dapat menekan potensi pemanasan global hingga di bawah 0,5 kilogram ekuivalen karbon dioksida per kilogram produk berdasarkan hasil studi tersebut.
Residu Bauksit Berpotensi Mengandung Logam Bernilai Tinggi
Selain cangkang sawit, BRIN turut membahas potensi pemanfaatan residu bauksit atau red mud, yakni material sisa dari proses pengolahan bauksit.
Residu tersebut menjadi tantangan lingkungan karena memiliki tingkat alkalinitas tinggi. Namun, material ini juga mengandung unsur yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber daya sekunder apabila dapat diolah dengan teknologi yang tepat.
Purna bakti periset Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Sariman, menyebut volume residu bauksit mencapai 6 juta hingga 10 juta ton per tahun. Kandungan besi di dalamnya berkisar 20–60 persen, disertai unsur logam tanah jarang seperti neodimium, skandium, dan lantanum.
Unsur-unsur tersebut memiliki potensi untuk berbagai kebutuhan industri. Meski demikian, pemanfaatannya membutuhkan proses ekstraksi dan pemurnian yang sesuai, sekaligus pengelolaan residu agar tidak menimbulkan dampak lingkungan baru.
Sariman memaparkan pengembangan metode hidrometalurgi dan pirometalurgi untuk mengambil unsur bernilai dari residu bauksit. Melalui proses pelindian menggunakan asam sulfat pada kondisi optimum, efisiensi perolehan neodimium disebut mencapai 99,6 persen, sedangkan skandium mencapai 80,3 persen secara selektif.
Hasil riset tersebut membuka peluang pengembangan ekonomi sirkular, yaitu mengubah material sisa menjadi sumber daya sekunder yang dapat menghasilkan nilai tambah.
Namun, pemanfaatan pada skala industri masih perlu mempertimbangkan biaya pengolahan, kebutuhan energi, pengelolaan sisa proses, serta kelayakan ekonomi.
Hilirisasi Limbah Perlu Dukungan Industri
Kepala PRTM BRIN, Fajar Nurjaman, mengatakan riset pengolahan mineral di Indonesia mulai berkembang dari yang sebelumnya berfokus pada mineral utama, seperti nikel dan bauksit, menjadi pengolahan sisa kegiatan pertambangan dan industri untuk menghasilkan produk bernilai tinggi.
Menurutnya, pengembangan teknologi pengolahan limbah dan metalurgi hijau membutuhkan sinergi antara lembaga riset, perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku industri.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat hilirisasi mineral strategis sekaligus mendorong kegiatan industri yang lebih berkelanjutan.
Bagi Kalimantan Barat, peluang ini relevan untuk ditelusuri lebih lanjut karena provinsi tersebut memiliki aktivitas perkebunan kelapa sawit dan pengolahan mineral, termasuk bauksit.
Pemanfaatan cangkang sawit sebagai bahan baku biokokas maupun pengolahan residu bauksit berpotensi membuka rantai nilai ekonomi baru. Akan tetapi, penerapannya membutuhkan data mengenai volume bahan baku, kesiapan teknologi, kebutuhan industri, serta kepastian investasi.
Kajian mengenai biaya produksi, konsistensi pasokan, standar mutu, dan hasil pengujian pada skala komersial juga diperlukan untuk menilai apakah inovasi tersebut layak diterapkan secara luas.
Dengan dukungan riset dan keterlibatan industri, pemanfaatan residu sawit dan bauksit berpeluang menjadi salah satu alternatif pengembangan hilirisasi yang tidak hanya mengejar nilai tambah ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
