Kamis, 22 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Survei Kepuasan Prabowo Berbeda, SMRC Catat 44,5 Persen dan Poltracking 52,3 Persen

✍️ Nita Purnamasari 🕒 21 Oct 2026 👁️ 2x dibaca
Presiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka
Presiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka Foto: istimewa

kayongnews.com – Dua survei nasional menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan tingkat kepuasan publik yang berbeda. Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mencatat 44,5 persen responden puas terhadap kinerja Prabowo, sedangkan Poltracking Indonesia memperoleh angka 52,3 persen.

Perbedaan sebesar 7,8 poin persentase tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya kesalahan metodologi dari salah satu lembaga survei. Hasil keduanya perlu dibaca dengan mempertimbangkan desain sampel, teknik wawancara, redaksi pertanyaan, serta pengolahan data.

SMRC merilis survei bertajuk Kinerja Dua Tahun Presiden Prabowo pada 16 Oktober 2026. Pengumpulan data dilakukan pada 1–10 Oktober dengan melibatkan 1.213 responden yang memiliki hak pilih.

Sebanyak 1.013 responden yang memiliki telepon seluler diwawancarai melalui telepon menggunakan metode double sampling. Sementara itu, 200 responden tanpa telepon seluler diwawancarai secara langsung dengan metode stratified multistage random sampling.

SMRC melaporkan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, dengan asumsi simple random sampling. Dari hasil survei tersebut, 44,5 persen responden menyatakan puas terhadap kinerja Prabowo, 53,4 persen tidak puas, dan 2,1 persen tidak memberikan jawaban.

Sementara itu, Poltracking Indonesia melakukan survei pada 30 September hingga 7 Oktober 2026 terhadap 1.220 responden di 38 provinsi. Pengumpulan data menggunakan metode stratified multistage random sampling melalui wawancara tatap muka.

Poltracking juga melaporkan margin of error sekitar 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Hasilnya, 52,3 persen responden menyatakan puas terhadap kinerja Presiden Prabowo dan 45,5 persen tidak puas.

Untuk penilaian terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran secara keseluruhan, Poltracking mencatat tingkat kepuasan sebesar 55,3 persen. Angka ini mengukur objek yang berbeda dari kepuasan terhadap kinerja Presiden secara khusus.

Metode Wawancara dan Periode Survei Perlu Diperhatikan

Salah satu perbedaan antara kedua survei terletak pada teknik pengumpulan data. SMRC menggabungkan wawancara melalui telepon dan tatap muka, sedangkan Poltracking menggunakan wawancara tatap muka untuk seluruh responden.

Perbedaan cara wawancara berpotensi memengaruhi pengalaman responden dalam menyampaikan pendapat. Tingkat kenyamanan, cara pertanyaan disampaikan, dan situasi wawancara dapat menjadi faktor yang perlu diperiksa. Meski demikian, pengaruhnya terhadap selisih hasil kedua survei tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan angka akhir.

Waktu pengumpulan data juga perlu menjadi pertimbangan. Survei SMRC berlangsung pada 1–10 Oktober, sementara Poltracking mengumpulkan data pada 30 September–7 Oktober. Kedua periode tersebut beririsan, tetapi tidak sepenuhnya sama.

Perkembangan isu politik, ekonomi, maupun kebijakan pemerintah selama periode survei berpotensi memengaruhi penilaian masyarakat. Namun, untuk memastikan pengaruhnya, diperlukan informasi tambahan mengenai waktu wawancara dan perubahan opini responden.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa pertanyaan yang dibandingkan benar-benar mengukur hal yang sama. Kepuasan terhadap Presiden Prabowo secara pribadi tidak identik dengan penilaian terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran secara keseluruhan.

Margin of Error Bukan Satu-satunya Ukuran

Kedua lembaga melaporkan margin of error sekitar 2,9 persen. Meski demikian, angka tersebut tidak menjamin bahwa hasil kedua survei harus sama.

Margin of error menggambarkan ketidakpastian statistik akibat pengambilan sampel berdasarkan asumsi tertentu. Angka itu tidak otomatis mencakup seluruh kemungkinan bias, seperti perbedaan cakupan responden, tingkat respons, redaksi pertanyaan, metode wawancara, maupun pembobotan data.

Untuk menilai kualitas metodologi secara lebih menyeluruh, diperlukan informasi mengenai rumusan pertanyaan yang digunakan, kerangka sampel, tingkat respons, prosedur pembobotan, serta mekanisme pengendalian mutu selama pengumpulan data.

Tanpa informasi tersebut, selisih hasil survei belum cukup untuk menyimpulkan bahwa salah satu lembaga melakukan kesalahan metodologis.

Perbedaan angka SMRC dan Poltracking karena itu perlu dipahami sebagai temuan dari dua pelaksanaan survei yang memiliki sejumlah perbedaan desain. Pembacaan yang cermat terhadap metode dan indikator yang digunakan menjadi penting agar publik tidak menarik kesimpulan berdasarkan angka semata.

NP
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update