Rabu, 04 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

KSSK Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Jadi 5,4–5,5 Persen

✍️ Nita Purnamasari 🕒 04 Nov 2026 👁️ 1x dibaca
KSSK merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,4–5,5 persen, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 5,6–6,0 persen.
KSSK merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,4–5,5 persen, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 5,6–6,0 persen. Foto: istimewa

kayongnews.com – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada pada kisaran 5,4–5,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Proyeksi tersebut mengalami penyesuaian dari perkiraan sebelumnya yang berada di rentang 5,6–6,0 persen.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan perubahan proyeksi tersebut dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

"Ekonomi Indonesia di tahun 2026 diprakirakan tumbuh di sekitar 5,4–5,5 persen year-on-year," ujar Suahasil.

Meski memperkirakan pertumbuhan lebih rendah, KSSK menilai perekonomian Indonesia masih memiliki daya tahan di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global.

Aktivitas ekonomi domestik diperkirakan tetap kuat pada kuartal III 2026. Permintaan dalam negeri dan kinerja ekspor menjadi sejumlah faktor yang menopang pertumbuhan tersebut.

Konsumsi dan Investasi Menjadi Penopang

Konsumsi rumah tangga masih dipandang sebagai salah satu penggerak utama perekonomian. Daya beli masyarakat didukung berbagai stimulus fiskal pemerintah melalui APBN.

Dukungan tersebut mencakup subsidi, kompensasi, perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan, hingga program penciptaan lapangan kerja.

Dari sisi investasi, aktivitas ekonomi diperkirakan tetap terjaga seiring berlanjutnya proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur dalam program prioritas pemerintah.

Percepatan belanja negara dan penyaluran bantuan sosial juga diharapkan memberikan kontribusi terhadap konsumsi pemerintah.

Sementara itu, ekspor nonmigas masih mencatat perkembangan positif. Kinerja tersebut didukung oleh permintaan dan kenaikan harga sejumlah komoditas ekspor.

PMI Manufaktur Indonesia Meningkat

Sejumlah indikator turut memperlihatkan aktivitas ekonomi domestik masih berada dalam zona ekspansi.

KSSK mencatat penjualan mobil pada September 2026 tumbuh 28,1 persen secara tahunan. Penjualan sepeda motor pada periode yang sama juga meningkat 15,4 persen.

Di sektor industri, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik dari kisaran 52 pada September menjadi 54 pada Oktober 2026.

Indeks PMI di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi. Kenaikan tersebut mengindikasikan aktivitas industri mengalami perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

Risiko Global Tekan Pasar Keuangan

Di tengah ketahanan ekonomi domestik, KSSK tetap mewaspadai sejumlah risiko eksternal. Gejolak geopolitik yang memicu kenaikan harga energi, kebijakan moneter negara maju yang cenderung ketat, serta terbatasnya aliran modal ke negara berkembang menjadi perhatian.

Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia juga meningkat pada Oktober 2026. KSSK menyoroti kondisi likuiditas, perkembangan pasar saham setelah pengumuman MSCI, serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat arus modal keluar dari pasar saham.

Pada 2 November 2026, rupiah tercatat berada di level Rp18.145 per dolar AS atau melemah 0,11 persen dibandingkan posisi akhir Oktober.

Meski demikian, cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 masih mencapai 146,3 miliar dolar AS. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor.

KSSK Perkuat Koordinasi Kebijakan

Untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mempertahankan pertumbuhan ekonomi, KSSK berkomitmen memperkuat koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Koordinasi tersebut diarahkan untuk mengantisipasi dampak gejolak global, menjaga stabilitas nilai tukar, serta memastikan pembiayaan tetap mendukung kegiatan sektor riil.

KSSK juga menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah dan Danantara melalui pendekatan Two Arms of the State. Pendekatan ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Melalui sinergi kebijakan tersebut, otoritas keuangan berharap stabilitas sistem keuangan tetap terjaga dan perekonomian nasional mampu mempertahankan momentum pertumbuhan secara berkelanjutan.

NP
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update