Capaian Inklusi Keuangan, 49.351 Pelajar di Pontianak Miliki Rekening SimPel Lewat Inovasi Bank Sampah
Pemerintah Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mencatatkan capaian signifikan dalam upaya membangun budaya menabung dan kesadaran ekologis di kalangan generasi muda. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 49.351 anak sekolah di wilayah tersebut kini tercatat telah memiliki rekening finansial melalui program Simpanan Pelajar (SimPel). Angka kepesertaan yang masif ini tidak lepas dari strategi kreatif pemerintah daerah dalam mengintegrasikan edukasi literasi keuangan dengan pengelolaan lingkungan hidup, salah satunya melalui pemanfaatan bank sampah mini di berbagai lingkungan satuan pendidikan.
Inisiatif strategis ini dirancang untuk menjangkau seluruh jejaring pendidikan secara bertahap, mencakup sekolah tingkat dasar hingga menengah, baik yang dikelola secara negeri maupun swasta, serta lembaga pendidikan berbasis agama seperti madrasah dan pondok pesantren. Melalui kepemilikan rekening SimPel, anak-anak tidak hanya diperkenalkan pada instrumen perbankan formal sejak usia dini, tetapi juga dilatih untuk memahami esensi pengelolaan anggaran secara mandiri.
Pemerintah memandang bahwa pembentukan karakter finansial yang matang harus dimulai jauh sebelum anak-anak memasuki usia dewasa. Dalam hal ini, kepala daerah setempat menegaskan urgensi penanaman kebiasaan finansial tersebut. "Menurutnya, kepemilikan rekening SimPel juga dapat membantu pelajar memahami cara mengelola uang sesuai kebutuhan," tulis laporan terkait pandangan pejabat setempat. Lebih lanjut, penekanan serupa juga disampaikan dalam kutipan langsung berikut:
"Melalui program tersebut, siswa juga diajak memahami pentingnya menggunakan uang sesuai kebutuhan dan mempersiapkan masa depan," kata dia.
Guna mendongkrak partisipasi aktif para siswa, instansi terkait mengombinasikan kepemilikan rekening bank dengan gerakan peduli lingkungan lewat program bank sampah mini di sekolah. Mekanisme praktis ini berjalan dengan melibatkan peran serta aktif para siswa yang membawa berbagai jenis sampah rumah tangga yang telah dipilah dari kediaman masing-masing. Material sisa konsumsi tersebut kemudian diserahkan ke sekolah untuk menjalani proses penimbangan dan penilaian harga berdasarkan jenis serta kualitasnya.
Keuntungan finansial dari penjualan material daur ulang tersebut tidak diberikan dalam bentuk tunai lepas, melainkan langsung disetorkan untuk menambah saldo tabungan SimPel masing-masing pemiliknya. Skema cerdas ini dinilai mampu memberikan pemahaman ganda kepada para pelajar bahwa barang-barang yang selama ini dianggap sebagai limbah tak berguna ternyata menyimpan potensi nilai ekonomis yang nyata.
Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak, infrastruktur pendukung program hijau ini telah hadir di puluhan titik institusi pendidikan. Dari total 141 sekolah yang terdaftar dalam program Adiwiyata, sebanyak 35 institusi tercatat sudah mengoperasikan bank sampah mini secara mandiri. Perluasan fasilitas ini terus dikebut melalui pendampingan intensif agar para siswa semakin terbiasa mengenali ragam jenis material daur ulang.
Dalam pelaksanaannya, pihak sekolah menjalin kerja sama strategis dengan pihak pengepul resmi, seperti Bank Sampah Rosella, untuk menyerap material yang dikumpulkan oleh anak-anak. Sebagai contoh konkret, komoditas sampah jenis plastik di tingkat pelajar lazimnya memiliki harga jual sekitar Rp4.000 untuk setiap kilogramnya. Tidak berhenti pada aspek tabungan uang, sisa material yang terkumpul dalam skala besar juga berpeluang diolah kembali menjadi berbagai barang multiguna, mulai dari produk perlengkapan mebel hingga material bangunan seperti batako.
Dinas Lingkungan Hidup berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan bank sampah mini ke seluruh penjuru sekolah dasar dan menengah pertama di bawah naungan yurisdiksi kota. Langkah progresif ini dinilai efektif dalam menekan volume beban sampah harian yang dikirimkan menuju tempat pembuangan sementara (TPS). Mengenai hal tersebut, Kepala DLH Kota Pontianak, Syarif Usmulyono, memberikan penjelasan terperinci mengenai teknis pelaksanaan di lapangan:
"Anak-anak kita ajarkan memilah sampah dari rumah. Setelah dibawa ke sekolah dalam keadaan terpilah, sampah tersebut dibeli melalui Bank Sampah Rosella dan hasilnya dimasukkan ke tabungan mereka," katanya.
Melalui kombinasi pendekatan edukasi perbankan dan pelestarian lingkungan ini, pemerintah optimis mentalitas generasi muda akan terbangun secara utuh. Kesadaran ekologis yang dipupuk sejak bangku sekolah diyakini akan melekat hingga mereka tumbuh dewasa, menciptakan masyarakat yang cerdas secara finansial sekaligus peduli terhadap kelestarian alam sekitar. Upaya kolaboratif bersama lembaga perbankan daerah seperti Bank Kalbar pun terus diperkuat demi memastikan akses keuangan inklusif bagi seluruh pelajar dapat berjalan secara berkelanjutan.
