Inflasi Kayong Utara Tertinggi di Kalbar, Capai 5,23 Persen
kayongnews.com – Kabupaten Kayong Utara mencatat inflasi tahunan tertinggi di Kalimantan Barat pada Oktober 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi di daerah tersebut mencapai 5,23 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,34.
Angka itu lebih tinggi dibandingkan inflasi Kalimantan Barat yang tercatat sebesar 4,17 persen secara tahunan atau year on year (y-on-y). Inflasi provinsi tersebut juga telah melampaui batas atas sasaran nasional sebesar 3,5 persen.
Kepala BPS Provinsi Kalimantan Barat, Muh Saichudin, menjelaskan sasaran inflasi 2026 ditetapkan sebesar 2,5 persen dengan deviasi plus minus 1 persen. Artinya, rentang sasaran inflasi berada pada 1,5 hingga 3,5 persen.
Secara keseluruhan, IHK Kalimantan Barat meningkat dari 108,24 pada Oktober 2025 menjadi 112,75 pada Oktober 2026.
Dari lima kabupaten/kota yang menjadi wilayah penghitungan IHK, Kayong Utara berada di posisi tertinggi. Sementara inflasi terendah tercatat di Kota Pontianak sebesar 3,47 persen dengan IHK 111,16.
Secara bulanan, kondisi inflasi Kalimantan Barat justru relatif terkendali. Pada Oktober 2026, provinsi ini mengalami deflasi sebesar 0,01 persen. Namun, inflasi tahun kalender atau year to date (y-to-d) telah mencapai 3,63 persen.
BPS mencatat kenaikan harga terjadi pada seluruh 11 kelompok pengeluaran. Kelompok transportasi mengalami inflasi tertinggi sebesar 6,44 persen, disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 6,42 persen.
Sejumlah kelompok lainnya juga mengalami kenaikan harga, antara lain perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 2,91 persen, perlengkapan rumah tangga 2,72 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,37 persen.
Dari sisi komoditas, cabai rawit menjadi penyumbang inflasi tahunan terbesar dengan andil 0,43 persen. Berikutnya minyak goreng sebesar 0,20 persen, beras dan ikan baung masing-masing 0,15 persen, ketimun 0,14 persen, serta kangkung 0,12 persen.
Ikan nila turut menyumbang inflasi sebesar 0,11 persen. Sementara cabai merah dan kacang panjang masing-masing memberikan andil 0,09 persen.
Di sisi lain, beberapa komoditas menahan laju inflasi. Daging ayam ras memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen, telur ayam ras 0,03 persen, serta bawang merah dan wortel masing-masing 0,02 persen.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama dalam dua tahun sebelumnya, inflasi tahunan Kalimantan Barat menunjukkan tren meningkat. Pada Oktober 2024, inflasi tercatat 1,58 persen, kemudian naik menjadi 2,07 persen pada Oktober 2025, hingga mencapai 4,17 persen pada Oktober 2026.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan kenaikan harga secara tahunan semakin besar, meskipun pada Oktober 2026 Kalimantan Barat mengalami deflasi tipis secara bulanan.
