Kamis, 29 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Bukan Cuma Hutan, Kebakaran Lahan di Kalimantan Merusak Ekosistem Air dan Ikan Sungai

✍️ Yudi Setiawan 🕒 19 Oct 2026 👁️ 5x dibaca
Ilustrasi Sungai Sekonyer
Ilustrasi Sungai Sekonyer Foto: detik.com

Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan ternyata jauh melampaui kehancuran vegetasi darat dan ancaman terhadap mamalia hutan. Bencana ekologis tahunan ini terbukti merusak kualitas air sungai di sekitarnya, yang pada akhirnya mengancam kelangsungan hidup populasi ikan sungai. Perubahan drastis pada parameter kimia air, mulai dari tingkat keasaman (pH) hingga masuknya endapan material pembakaran menjadi pemicu utama rusaknya ekosistem akuatik di kawasan terdampak.

Dampak serius karhutla terhadap ekosistem akuatik ini bukan sekadar kekhawatiran tanpa alasan, melainkan telah dibuktikan melalui riset ilmiah di Kalimantan Tengah. Salah satu studi kasus yang mencolok tercatat di Sungai Sebangau.

Sebelum terjadinya peristiwa karhutla hebat pada bulan September 2015, rata-rata keasaman air (pH) di Sungai Sebangau tercatat berada di level 3,88. Meskipun angka ini sudah masuk dalam kategori alami air gambut yang cenderung asam, kondisi tersebut memburuk secara drastis pascakawasan gambut terbakar. Pada November 2015, tingkat keasaman air sungai tersebut merosot tajam hingga menyentuh angka 3,20.

Penurunan derajat keasaman yang signifikan ini berdampak langsung pada kehidupan biologis ikan dan organisme sungai lainnya. Kondisi air yang menjadi sangat asam mengganggu fisiologi biota air, yang berujung pada penurunan populasi ikan secara dramatis. Fenomena ilmiah ini sejalan dengan keluhan yang dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir sungai. Para nelayan lokal melaporkan bahwa hasil tangkapan ikan di sepanjang aliran Sungai Sebangau mengalami penurunan drastis sesudah bencana karhutla melanda kawasan tersebut. 

Mengapa kebakaran di daratan bisa merusak kualitas air di dalam sungai? Jawabannya terletak pada proses kimiawi yang terjadi saat lapisan gambut terbakar.

Ketika karhutla terjadi, lapisan bahan organik di atas tanah gambut akan meluruh dan hangus. Sisa-sisa pembakaran tersebut menghasilkan residu berupa arang, abu halus, serta material tanah terdegradasi. Ketika hujan—baik hujan alami maupun hujan buatan yang difasilitasi dalam upaya pemadaman—turun mengguyur area bekas kebakaran, partikel-partikel pencemar tersebut larut dan terbawa oleh limpasan air permukaan menuju aliran sungai terdekat.

Dampak pencemaran ini sangat bervariasi pada tiap-tiap badan air. Di beberapa lokasi perairan, masuknya abu sisa pembakaran yang kaya akan kandungan mineral basa dapat meningkatkan angka pH air sungai. Namun, kasus berbeda terjadi di ekosistem perairan gambut seperti Sungai Sebangau. Di wilayah ini, pembakaran lahan gambut justru melepaskan molekul dan senyawa organik berkarakter asam tinggi ke dalam badan air, sehingga tingkat keasaman sungai melonjak ke taraf berbahaya bagi fauna air. 

Selain merusak kualitas kimiawi air, karhutla juga melumpuhkan struktur vegetasi di sekitar aliran sungai dalam jangka waktu yang sangat panjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan hutan yang terpapar api mengalami penurunan kualitas habitat secara masif, yakni berkisar antara 58% hingga 98%. Kerusakan ini mencakup rusaknya kerapatan pohon, hancurnya struktur habitat alami, hingga hilangnya tutupan tajuk hutan bila dibandingkan dengan kondisi hutan alami yang belum terjamah api.

Hilangnya tutupan pohon di sepanjang bantaran sungai menyebabkan paparan sinar matahari masuk secara langsung tanpa hambatan, yang dapat meningkatkan suhu air sungai. Kombinasi antara peningkatan suhu, penurunan pH air, serta tingginya laju sedimentasi material abu membuat sungai kehilangan fungsinya sebagai rumah yang aman bagi populasi ikan endemik Kalimantan.

Kenyataan ini mempertegas fakta bahwa karhutla bukan sekadar bencana lokal yang hanya memusnahkan pepohonan dan mengusir satwa darat. Kerusakan ekologis yang ditimbulkannya bersifat interkonektif dan multisektor.

Asap tebal tidak hanya memicu gangguan pernapasan bagi manusia serta hewan-hewan darat, namun residu pembakarannya juga merusak kualitas tanah dan meracuni perairan. Dengan demikian, udara, tanah, hingga air sungai beserta fauna di dalamnya sama-sama menanggung dampak destruktif dari meluasnya kebakaran hutan. Kerusakan pada ekosistem sungai ini pada akhirnya tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati akuatik, tetapi juga meruntuhkan ketahanan ekonomi masyarakat lokal yang mengandalkan mata pencaharian dari sektor perikanan sungai.

YS
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update