Dampak Karhutla Kobar: RSUD Sultan Imanuddin Rawat 78 Pasien ISPA dan 7 Relawan
PANGKALAN BUN — Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat serta keselamatan para petugas penanggulangan bencana di lapangan. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Imanuddin Pangkalan Bun mencatat penanganan medis intensif terhadap 78 pasien yang menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Tak hanya warga sipil, sebanyak 7 orang relawan dan petugas pemadam kebakaran lahan juga terpaksa dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami gangguan kesehatan hingga tumbang saat berjuang memadamkan kobaran api di titik-titik karhutla.
Peningkatan angka gangguan pernapasan ini terjadi seiring masih pekatnya kabut asap yang menyelimuti sejumlah kawasan permukiman di Kotawaringin Barat. Kendati demikian, pihak manajemen rumah sakit menegaskan bahwa angka 78 pasien ISPA tersebut merupakan data rujukan dan penanganan di tingkat rumah sakit rujukan daerah, sehingga belum menggambarkan keseluruhan angka kejadian kasus pernapasan di seluruh wilayah kabupaten.
Direktur RSUD Sultan Imanuddin, dr. Fachruddin, menjelaskan bahwa jumlah tersebut hanya mencakup pasien yang memperoleh pelayanan di rumah sakit. Data itu belum mewakili seluruh kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kobar karena warga juga mendapatkan penanganan di tingkat fasilitas kesehatan primer seperti puskesmas.
dr. Fachruddin menegaskan, "Meski demikian, angka 78 pasien tersebut merupakan data penanganan di rumah sakit dan bukan jumlah keseluruhan kasus ISPA di Kobar. Pelayanan kesehatan juga berlangsung di puskesmas yang tersebar di berbagai wilayah," katanya.
Penegasan dari pihak pengelola rumah sakit ini menunjukkan bahwa beban penanganan medis terbagi secara berjenjang. Sementara puskesmas memberikan penanganan awal pada derajat infeksi ringan hingga sedang, RSUD Sultan Imanuddin memfokuskan tindakan medis pada pasien dengan gejala keluhan yang lebih berat serta pasien dari kelompok rentan seperti balita dan lansia.
Ancaman fisik dalam krisis karhutla ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat umum, tetapi juga menyasar barisan garda terdepan. Terhitung ada 7 orang relawan dan petugas lapangan yang mengalami gangguan kesehatan serius akibat paparan asap pekat, suhu panas ekstrem, serta kelelahan fisik saat berupaya memadamkan kobaran api di area lahan kering.
Para petugas yang tumbang tersebut terdiri atas anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar serta personel Masyarakat Peduli Api (MPA) dari berbagai wilayah. Mereka harus dirawat akibat sesak napas akut dan kelelahan fisik saat bertaruh nyawa menahan laju kebakaran. Sebagian relawan dilaporkan telah mendapatkan penanganan kegawatdaruratan dan dipantau secara ketat oleh tim medis RSUD Sultan Imanuddin guna memastikan kondisi vital mereka kembali stabil sebelum diizinkan pulang.
Berdasarkan analisis tren kesehatan lingkungan, lonjakan kasus penyakit saluran pernapasan ini menunjukkan pola yang selaras dengan dinamika iklim lokal. Kenaikan kasus pada minggu ke-29 hingga minggu ke-31 berlangsung bersamaan dengan meningkatnya aktivitas karhutla selama puncak musim kemarau di Kotawaringin Barat. Paparan materi partikulat halus dan partikel asap pembakaran menjadi faktor lingkungan yang sangat perlu diwaspadai oleh masyarakat. Namun demikian, tim medis berpesan agar pengamatan klinis tetap memisahkan antara kasus akibat asap murni dan kasus pemicu infeksi bawaan lainnya.
Selain dampak pernapasan akibat kabut asap, ancaman penyakit pencernaan juga membayangi warga. Berdasarkan laporan berkala dari Dinas Kesehatan Kobar pada minggu ke-39, tercatat ada 107 kasus diare akut, yang mengalami peningkatan mendasar dari angka 86 kasus pada minggu sebelumnya. Pada periode yang sama, jajaran medis juga mencatat sebanyak 25 kasus pneumonia dan lima kasus influenza-like illness (ILI), yakni kondisi penyakit dengan gejala menyerupai infeksi influenza.
Menghadapi potensi pemburukan krisis kesehatan, pihak fasilitas medis imbau masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi tubuh masing-masing maupun keluarga terdekat. Warga diminta untuk mengurangi aktivitas di luar rumah tanpa perlindungan masker standar, terutama pada jam-jam ketika konsentrasi kabut asap mencapai puncaknya.
Apabila timbul gejala klinis yang mengkhawatirkan, warga diminta agar tidak menunda untuk segera berobat ke fasilitas kesehatan terdekat. Penanganan yang cepat sangat krusial guna mencegah kondisi pasien memburuk menjadi pneumonia berat atau gagal napas.
Oleh karena itu, pihak medis mengimbau agar, "Warga yang mengalami sesak napas, napas cepat, kesulitan makan atau minum, maupun gejala yang semakin memburuk disarankan segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan," pungkasnya.
Upaya penanggulangan dampak bencana karhutla ini terus dilakukan secara terpadu oleh Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat, Dinas Kesehatan, BPBD, serta RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun guna memastikan pasokan logistik medis, oksigen, dan ruang perawatan memadai bagi seluruh korban kabut asap.
