Selasa, 03 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Kualitas Udara Anjlok Akibat Kebakaran Hutan, Kalteng Wilayah Paling Rentan dengan Ribuan Risiko Kematian

✍️ Yudi Setiawan 🕒 31 Oct 2026 👁️ 4x dibaca
Asap pekat di Palangka Raya.
Asap pekat di Palangka Raya. Foto: ANTARAFOTO

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di tanah air dalam beberapa bulan terakhir ternyata meninggalkan jejak ancaman kesehatan yang sangat serius. Berdasarkan temuan terbaru dari lembaga riset energi bersih yang berbasis di Finlandia, Center for Research on Energy and Clean Air (CREA), paparan pekatnya kabut asap beracun sepanjang periode Agustus hingga September diperkirakan telah memicu sedikitnya 5.200 kasus kematian di Indonesia. Dari sekian banyak daerah yang terpapar, Provinsi Kalimantan Tengah tercatat sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan dan risiko paling tinggi.

Lonjakan angka kematian ini menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dari bulan ke bulan seiring masifnya titik api. CREA memaparkan bahwa estimasi korban jiwa akibat polusi udara ekstrim tersebut berada di angka 1.700 kematian pada Agustus, yang kemudian melonjak tajam menjadi 3.560 kematian hanya dalam kurun waktu sebulan pada September. Melonjaknya angka ini berkorelasi langsung dengan perluasan cakupan lahan yang terbakar serta buruknya sirkulasi udara di pulau-pulau besar seperti Kalimantan dan Sumatera.

Ancaman utama di balik bencana musiman ini bersumber dari partikel polutan halus berukuran sangat mikroskopis, yakni Particulate Matter atau yang lebih dikenal dengan PM2.5. Partikel berbahaya ini sanggup menembus sistem filtrasi alami manusia, masuk secara mendalam ke saluran pernapasan bagian bawah, hingga menyusup ke dalam aliran darah. Paparan kronis terhadap PM2.5 berpotensi merusak fungsi paru-paru, memicu gangguan kardiovaskular, hingga meningkatkan risiko kematian dini bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.

Situasi krisis ekologis ini membuat puluhan juta warga harus menghirup udara dalam kategori tidak sehat hingga berbahaya. Catatan lembaga riset tersebut mengindikasikan bahwa sekitar 58 juta penduduk Indonesia terpapar kualitas udara buruk sepanjang September saja, mencatatkan rekor bulanan terburuk dengan lonjakan hingga 40 persen jika dibandingkan tingkat paparan tertinggi pada bulan sebelumnya. Di sejumlah titik pemukiman padat dan kota besar di wilayah Kalimantan, konsentrasi harian partikel PM2.5 dilaporkan sempat melampaui hingga 20 kali lipat dari ambang batas aman harian yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kondisi darurat lingkungan ini tidak lepas dari akumulasi faktor cuaca ekstrem serta musim kemarau panjang yang memperparah titik-titik kebakaran. CREA bahkan mencatat bahwa intensitas kebakaran di beberapa wilayah seperti Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua sempat melampaui catatan buruk peristiwa serupa pada tahun 2015 silam. Mengingat rekam jejak historisnya, bencana kabut asap lintas batas di Indonesia pernah menelan korban jiwa hingga ratusan ribu orang pada dekade lalu, yang dampaknya turut dirasakan oleh negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Menanggapi eskalasi krisis yang kian mengkhawatirkan ini, berbagai pihak mendesak adanya evaluasi komprehensif terkait langkah mitigasi bencana serta kesiapan infrastruktur kesehatan di daerah terdampak. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sendiri terus memantau pergerakan ribuan titik panas (hotspot) serta luasan lahan yang terbakar setiap harinya. Namun, tantangan di lapangan kerap kali diperberat oleh keterbatasan sumber daya serta anggaran penanggulangan yang dinilai belum sebanding dengan skala kerusakan ekologis yang terjadi.

Masyarakat di wilayah rawan seperti Kalimantan Tengah diimbau untuk tidak menganggap remeh kabut asap dan senantiasa menggunakan pelindung pernapasan yang memadai tatkala beraktivitas di luar ruangan. Pemerintah pusat bersama instansi terkait dituntut untuk memperketat pengawasan, mengoptimalkan operasi pemadaman darat maupun udara, serta menjamin ketersediaan fasilitas medis penanganan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) guna menekan laju dampak buruk karhutla bagi keselamatan publik.

YS
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update