Jumat, 30 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Daya Beli Lesu, Harga Beras di Palangka Raya Naik Tiap Pekan dan Tekan Pendapatan UMKM

✍️ Yudi Setiawan 🕒 30 Oct 2026 👁️ 1x dibaca
Pasar Besar Palangka Raya
Pasar Besar Palangka Raya Foto: istimewa

Gelombang kenaikan harga bahan kebutuhan pokok secara berkelanjutan kembali menghantam stabilitas ekonomi masyarakat di berbagai daerah, salah satunya dirasakan secara nyata di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Tekanan ekonomi ini tidak hanya membebani rumah tangga, melainkan juga menggerus kelangsungan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta para pedagang eceran di pasar-pasar lokal yang harus memutar otak di tengah lesunya daya beli konsumen.

Berdasarkan situasi di lapangan, komoditas pangan utama yakni beras tercatat mengalami tren kenaikan harga yang konsisten dan terjadi hampir setiap pekan. Kondisi ini membuat para pedagang eceran berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi mereka harus menyesuaikan modal pembelian dari distributor yang semakin tinggi, namun di sisi lain mereka dihadapkan pada konsumen yang semakin selektif akibat keterbatasan anggaran belanja harian.

Permasalahan utama dari fenomena ini berakar pada dinamika rantai pasok dan suplai dari tingkat distributor. Perubahan siklus masa panen di daerah produsen serta hambatan distribusi menjadi faktor dominan yang mengerek harga beras di tingkat pengecer merangkak naik secara bertahap. Akumulasi kenaikan yang terjadi secara kontinyu ini menciptakan beban finansial tambahan yang signifikan bagi para pedagang skala kecil di Kota Palangka Raya.

Dampak langsung yang paling dirasakan oleh para pelaku usaha eceran adalah merosotnya omzet penjualan harian secara drastis. Para pedagang melaporkan penurunan pendapatan kotor yang cukup besar dalam aktivitas perniagaan sehari-hari akibat berkurangnya volume pembelian dari masyarakat. Situasi ini diperparah dengan kondisi ketersediaan alternatif pangan murah, seperti beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Perum Bulog di tingkat pengecer, yang pasokannya dilaporkan masih terbatas dan belum mampu mengimbangi kebutuhan pasar secara optimal.

Mengenai dinamika harian di tingkat pedagang kecil, situasi tersebut digambarkan secara langsung oleh salah seorang pelaku usaha beras di Toko Mama Vina. Keluhan terkait kepedihan margin keuntungan akibat kenaikan harga modal diungkapkan secara lugas.

"Seminggu itu kadang Rp 10 ribu - Rp 20 ribu per karungnya. Bukan per kilo, per karungnya. Setiap minggu itu naik," ujar Mita, Kamis (29/10/2026).

Pernyataan tersebut mengonfirmasi bahwa pola kenaikan harga beras saat ini tidak terjadi secara serentak dalam jumlah besar yang langsung terasa, melainkan merangkak naik secara perlahan namun pasti setiap pekannya. Pola eskalasi harga yang konstan ini menyulitkan pedagang dalam menentukan harga eceran yang adil bagi konsumen sekaligus mempertahankan margin usaha mereka agar tetap bisa beroperasi.

Akibat dari penyusutan volume transaksi harian tersebut, para pedagang mengalami kerugian potensial yang cukup besar pada perputaran modal usaha mereka. Tekanan finansial ini diakui berdampak langsung pada stabilitas finansial toko-toko kelontong di wilayah setempat. Besaran kerugian omzet harian tersebut ditegaskan kembali oleh Mita dalam keterangannya.

"Omzet saya tokonya turun sekitar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per hari," katanya.

Angka penurunan omzet hingga jutaan rupiah setiap harinya tentu merupakan pukulan telak bagi skala usaha kecil menengah. Jika tren pelemahan daya beli dan kenaikan harga beras ini terus dibiarkan tanpa intervensi kebijakan yang efektif, kekhawatiran terbesar adalah banyak pelaku usaha eceran yang gulung tikar karena tidak sanggup menutupi biaya operasional harian.

Menghadapi tekanan ekonomi yang kian menghimpit ini, para pelaku usaha di Kota Palangka Raya menaruh harapan besar kepada pihak pemerintah dan instansi terkait. Mereka mendesak adanya langkah nyata untuk segera menstabilkan harga bahan pokok serta memastikan kelancaran rantai distribusi dari hulu ke hilir. Kehadiran intervensi pasar yang cepat dan tepat sasaran dinilai sangat krusial untuk memulihkan daya beli masyarakat luas sekaligus menjamin kelangsungan hidup sektor usaha kecil agar tidak semakin terpuruk di tengah gelombang inflasi pangan.

YS
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update