Jumat, 30 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Kondisi Orang Utan Paldo di Tengah Kebakaran Tanjung Puting: Masih Bugar, Namun Ancaman Nyata Mengintai

✍️ Yudi Setiawan 🕒 26 Oct 2026 👁️ 4x dibaca
Paldo di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP)
Paldo di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) Foto: YOHK

Di tengah kepulan asap pekat dan kerja keras petugas gabungan dalam menjinakkan amukan api akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kabar baik datang dari salah satu ikon satwa liar yang dilindungi. Orang utan bernama Paldo terpantau masih berada dalam kondisi yang bugar dan sehat di sekitar kawasan Camp Tanjung Harapan, Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Situasi darurat akibat perluasan titik api yang melanda kawasan konservasi dunia ini sempat membuat banyak pihak merasa cemas akan keselamatan fauna endemik di dalamnya. Meskipun ancaman bencana ekologis tersebut kian mendekati zona perlindungan, pemantauan lapangan menunjukkan bahwa satwa cerdas ini masih dapat bertahan di habitat alaminya di tengah kepungan kabut asap.

Kepastian mengenai kondisi fisik satwa tersebut disampaikan langsung oleh salah satu anggota Yayasan Orangutan Hutan Kerja (YOHK) di TNTP, Andi Akell. Berdasarkan pemantauan intensif yang dilakukan di sekitar area perkemahan, ia memastikan bahwa Paldo sejauh ini tidak menunjukkan tanda-tanda paparan buruk kesehatan yang signifikan akibat polusi asap karhutla.

"Alhamdulillah kondisinya sehat," ujar Andi Akell.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kemunculan Paldo di sekitar camp bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Individu orang utan tersebut tercatat sering kali mendatangi pos pemantauan guna mendapatkan pasokan tambahan makanan. Kebiasaan ini terbentuk lantaran Paldo bukan merupakan individu yang dominan secara teritorial manakala berada di dalam kelompok atau ketika bersaing di lokasi pemberian pakan (feeding camp) alami. Pola perilaku harian ini secara tidak langsung memudahkan tim konservasi untuk terus memantau tingkat kesehatan serta pergerakannya di tengah situasi krisis lingkungan yang sedang melanda kawasan hutan lindung tersebut.

Kendati demikian, kesehatan fisik Paldo saat ini tidak serta-merta menghilangkan kekhawatiran yang mendalam dari para pegiat lingkungan dan petugas pemadam kebakaran di lapangan. Bencana kebakaran hutan yang melanda Taman Nasional Tanjung Puting telah menciptakan tekanan ekologis yang luar biasa besar bagi seluruh rantai makanan dan keanekaragaman hayati di dalamnya. Titik-titik api dilaporkan terus bergerak dinamis, didorong oleh tiupan angin kencang di lapangan, sehingga mempersempit ruang gerak serta memicu ketakutan akan kerusakan permanen pada rumah masa depan bagi ribuan populasi orang utan dan satwa liar lainnya.

Keberadaan satwa seperti Paldo menjadi simbol nyata betapa rentannya ekosistem hutan tropis terhadap ancaman pemanasan global maupun kelalaian manusia yang memicu karhutla. Para petugas dan relawan konservasi tidak hanya berpacu dengan waktu untuk memadamkan kobaran api agar tidak semakin meluas ke zona rehabilitasi atau pusat pemberian pakan, tetapi juga memikul misi moral yang sangat berat demi menyelamatkan nyawa-nyawa tak berdosa yang terisolasi oleh kepungan asap.

Perjuangan di garis depan pemadaman karhutla Tanjung Puting ini melibatkan sinergi lintas pihak, mulai dari instansi pemerintah, masyarakat peduli api, hingga organisasi non-pemerintah yang mendedikasikan diri untuk kelestarian alam Borneo. Setiap jengkal tanah yang berhasil diselamatkan dari jilatan api merupakan penentu apakah generasi mendatang masih dapat menyaksikan keindahan alam liar Indonesia secara langsung atau hanya tinggal nama.

Sebagai penutup dari serangkaian pengamatan di tengah kecamuk bencana lingkungan ini, Andi Akell menyampaikan sebuah refleksi mendalam mengenai arti penting perlindungan kawasan hutan bagi keberlangsungan makhluk hidup yang mendiaminya.

"Di tengah perjuangan melawan api, menjaga hutan berarti menjaga kehidupan yang ada di dalamnya. Sebab, bagi orang utan seperti Paldo, hutan bukan sekadar bentang alam, melainkan tempat untuk bertahan hidup," pungkasnya.

YS
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update