Menugal di Tanah Dayak Gunung Mas: Merawat Warisan Leluhur Sekaligus Benteng Ketahanan Pangan
Kegiatan penanaman padi tradisional atau yang dikenal luas sebagai tradisi menugal kembali digelar di bumi Kalimantan, tepatnya di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Aktivitas yang berakar kuat pada kearifan lokal masyarakat Dayak Ngaju ini tidak sekadar menjadi ritual bercocok tanam semata, melainkan sebuah manifestasi nyata dalam merawat warisan budaya sekaligus memperkuat pilar ketahanan pangan daerah. Di tengah gempuran modernisasi sektor pertanian, praktik agraris warisan leluhur ini tetap dipertahankan sebagai identitas serta penopang kehidupan sosial masyarakat adat setempat.
Pelaksanaan tradisi menugal di wilayah ini melibatkan berbagai elemen penting pemerintahan daerah dan masyarakat setempat. Wakil Bupati Gunung Mas, Effernsia LP Umbing, hadir langsung memimpin kegiatan penanaman benih yang dimulai sejak pagi hari pukul 06.30 WIB di Tumbang Malahoi. Kehadiran jajaran pemerintah kabupaten ini menegaskan komitmen kuat dalam menyelaraskan antara agenda pembangunan sektor pertanian modern, perlindungan lingkungan hidup, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta pelestarian kebudayaan asli.
Berdasarkan laporan yang disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gunung Mas, Aryantoni, esensi utama dari pelaksanaan tradisi ini adalah mengoptimalkan pemanfaatan lahan secara bijak. Pemanfaatan lahan melalui metode tradisional terbukti mampu meningkatkan ketersediaan cadangan pangan bagi keluarga petani. Selain itu, pola tanam turun-temurun tersebut dirancang sedemikian rupa agar senantiasa selaras dengan kelestarian alam dan ekosistem sekitar, menghindari eksploitasi berlebihan yang dapat merusak struktur tanah hutan tropis.
Secara teknis dan historis, tradisi menugal merefleksikan nilai-nilai gotong royong yang sangat tinggi di antara warga. Kata "tugal" sendiri merujuk pada alat kayu yang digunakan untuk melubangi tanah kering sebelum benih padi gogo dimasukkan ke dalamnya. Proses ini melibatkan kerja kolektif antar-keluarga atau kelompok tani secara bergantian. Para lelaki biasanya memegang peran membuat lubang tanam dengan ketelitian ritme tertentu, sementara kaum perempuan mengikuti di belakangnya untuk menaruh benih dengan cermat.
Keunikan lain dari sistem pertanian ini terletak pada prinsip ekologisnya yang minim ketergantungan pada bahan kimia buatan. Masyarakat adat Dayak mengandalkan siklus alam secara natural dalam menjaga kesuburan tanah ladang mereka. Integrasi antara kearifan lokal, semangat kebersamaan kolektif, dan dukungan penuh dari pemerintah daerah menjadikan tradisi menugal bukan sekadar ritual masa lampau. Praktik ini terus bertransformasi menjadi strategi alternatif yang ampuh dalam menghadapi tantangan krisis pangan global, sekaligus menjaga roh kebudayaan Dayak agar tetap hidup dari generasi ke generasi.
